Selasa, 23 November 2010

High Gauge


I.       PENDAHULUAN

A.      STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR
1.     Standar Kompetensi
        Mengukur dengan menggunakan alat ukur mekanik presisi
2.     Kompetensi Dasar
a.  Menjelaskan cara penggunaaan alat ukur mekanik presisi
b.  Mengunakan alat ukur mekanik presisi
c.  Memelihara alat ukur mekanik presisi

B.      LIFE SKILL
Life Sklil yang diharapkan :
1.    Cermat
2.    Teliti

C.      DESKRIPSI
Modul berjudul Mengukur Dengan Alat Ukur Presisi ini berisi tentang penggunaan hight gauge digunakan dalam menentukan dimensi atau variabel. Penggunaan alat ukur secara tepat dan benar sangat penting, untuk itu diberikan pula cara perawatan dan pemeliharaan dari alat-alat ukur tersebut. Untuk dapat menentukan ukuran suatu benda diperlukan ketrampilan menggunakan alat ukur dengan baik.
Modul ini terdiri dari 3 (tiga) kegiatan belajar, yang mencakup: Identfikasa Jenis – jenis Alat Ukur Presisi, mengukur dengan mistar ketinggian (Height Gauge), serta memelihara dan merawat alat – alat ukur presisi.

D.      WAKTU
Waktu untuk mempelajari modul ini adalah 12x 45 menit dengan pembagian sebagai berikut
1.    4x 45 menit untuk mempelajari teori
2.    4x 45 menit untuk belajar praktek pengukuran

E.      PRASYARAT
Untuk dapat mengikuti kegiatan belajar dalam modul ini Peserta Diklat harus sudah menguasai tentang sistem satuan metris, sistem desimal dan desimal-desimal tambahan. Dalam Standar Kompetensi ini ada empat modul dalam materi yang berbeda yaitu materi tentang : Jangka sorong, High geroge, Mikrometer, dan Dial indikator, sebelum mempelajari modul ini siswa harus sudah mempelajari modul tentang Jangka sorong.

F.      PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
Peserta Diklat diharapkan melakukan langkah-langkah belajar sebagai berikut:
1.  Pelajari secara baik dan cermati uraian teori yang disampaikan dalam kegiatan belajar, bilamana merasa kurang dapat mencari referensi lain atau bertanya kepada guru pembimbing.
2.  Jawab pertanyaan tes formatif yang ada kemudian konsultasikan dengan guru pembimbing bilamana telah menguasai maka bisa dilanjutkan ke tahapan kegiatan belajar praktek sesuai dengan perintah pada lembar kerja.
3.  Melakukan kerja praktek mulai dari persiapan hingga selesainya proses pengelasan kemudian melaporkan hasil praktek untuk mendapatkan penilaian dari guru pembimbing .
4.  Setelah Peserta Diklat mampu menguasai proses pemelajaran dan memenuhi kriteria kelulusan maka Peserta Diklat berhak mengikuti tes sertifikasi pada bidang keahlian ini.



G.      TUJUAN AKHIR
  1. Peserta Diklat mampu menyebutkan berbagai macam alat ukur yang digunakan dalam dunia industri dan dapat memilih alat ukur yang tepat sesuai dengan jenis kerja.
  2. Peserta Diklat terampil dalam menggunakan alat ukur presisi.
  3. Peserta Diklat mampu merawat dan melakukan kalibrasi alat ukur.


H.      CEK PENGUASAAN STANDAR KOMPETENSI
Isilah cek list (Ö ) pada tabel di bawah ini dengan benar, jujur dan dapat dipertanggungjawabkan  untuk mengetahui kemampuan awal yang telah anda miliki.
Kompetensi Dasar
Pernyataan
Saya dapat melakukan pekerjaan ini dengan kompeten
Bila jawaban ”Ya” Kerjakan
Ya
Tidak
Menjelaskan cara penggunaan alat ukur mekanik presisi
Mengetahui fungsi alat pengukur ketinggian (heigh gauge) dan bagian-bagiannya


Tes Formatif 1
Menggunakan alat ukur mekanik presisi


Mampu menggunakan alat pengukur ketinggian (heigh gauge) ketelitian 0,02 mm untuk melakukan pengukuran linear tinggi benda hasil pemesinan


Tes Formatif 2
Memelihara alat ukur mekanik presisi
Mampu menyetel dan mengkalibasi alat ukur setiap akan melakukan pengukuran


Tes Formatif 3



II.PEMBELAJARAN

A.   PEMBELAJARAN 1
IDENTIFIKASI JENIS – JENIS ALAT UKUR
1.    Tujuan Kegiatan Pembelajaran
Setelah mempelajari pembelajaran ini, siswa mampu :
a.    Memahami dasar-dasar tentang ilmu pengukuran ( Besaran, satuan, standar, dll )
b.    Mampu mengidentifikasi jenis-jenis alat ukur presisi
c.    Mengenal karakteristik umum dari alat ukur

2.    Uraian materi 1
      Pengukuran adalah membandingkan suatu besaran dengan besaran standar. Besaran standar adalah acuan/ pedoman yang sudah disepakati bersama secara internasional. Besaran standar tentunya memerlukan satuan – satuan dasar. Agar dapat digunakan maka besaran standar tersebut harus dapat didefinisikan secara fisik, tidak berubah karena waktu, dan harus dapat digunakan sebagai alat pembanding di seluruh dunia.

a.      Sistem Satuan Dan Pengukuran
       Dalam dunia perindustrian saat ini ada dua sistem pengukuran      yang digunakan yaitu sistem inci (English system).dan sistem metrik (Metrik System).

1). Sistem Inci (English system)
Sistem inci, secara garis besar berlandaskan pada satuan inci, pound dan detik  sebagai dasar satuan panjang, massa dan waktu. Pada umumnya sistem ini digunakan di Inggris dan Amerika.
2). Sistem Metrik (Metrik System)
Sistem metrik telah dikembangkan oleh para ilmuwan Perancis  sejak tahun 1970-an. Sistem ini mendasarkan pada meter untuk pengukuran panjang dan kilogram untuk pengukuran berat.
Satu meter didefinisikan sebagai satuan panjang yang panjangnya adalah = 1.650.763,73 x panjang gelombang radiasi atom  Krypton 86 dalam ruang hampa. Sedangkan satu kilogram didefinisikan sebagai masa dari satu decimetre kubik air distilasi pada kekentalan (density) maksimum yaitu pada temperatur 4 derajat Celcius.
Sebetulnya, kalau dikaji lebih jauh sistem metrik ini mempunyai keuntungan dibandingkan sistem inci.  Keuntungan – keuntungan tersebut antara lain :
(a). Konversinya lebih mudah, perhitungannya juga lebih mudah, dan cepat karena berdasarkan kelipatan sepuluh, dan terminologinya lebih mudah dipelajari.
(b). Dunia industri dari negara – negara industri sebagaian besar menggunakan sistem metrik sehingga hal ini memungkinkan terjadinya hubungan kerja sama antara industri satu dengan lainnya karena sistem pengukuran yang digunakan sama, (Ingat prinsip dasar industri untuk menghasilkan komponen yang mempunyai sifat mampu tukar).
                    Pengukuran merupakan bagian yang sangat penting dan sangat diperlukan pada proses pemesinan atau dalam pembuatan peralatan – peralatan teknik, diantaranya :
·      Pengukuran diperlukan untuk memberikan batas – batas ukuran pada bahan yang akan dipotong sebagai langkah awal dari proses pemesinan.
·      Pengukuran diperlukan untuk membentuk bahan sesuai rencana ukuran berdasarkan gambar rancangannya.
·      Pengukuran diperlukan untuk merakit, menyesuaikan produk satu dengan produk lainnya sesuai dengan fungsinya.
·       Pengukuran diperlukan untuk memeriksa dimensi suatu produk.
·      Pengukuran diperlukan untuk menentukan kebutuhan stok bahan sesuai dengan jumlah order yang diperlukan.
·      Pengukuran diperlukan untuk pertimbangan lain, misalnya menentukan luas, massa, kekuatan bahan, dan toleransi.
Untuk pengukuran di atas diperlukan alat – alat ukur panjang atau linier, baik alat ukur dasar, sedang, atau alat – alat ukur presisi. Alat – alat ukur panjang tersebut yaitu :
·       Jangka sorong (vernier calliper) jam ukur (dial indicator), serta
·       Mistar geser ketinggian (Height Gauge)
·       Mikrometer luar (outside micrometer)
·       Jam ukur (dial indicator) dll.
Karakteristik dari alat – alat ukur inilah yang menyebabkan adanya perbedaan antara alat ukur yang satu dengan yang lainnya. Karakteristik ini bisa menyangkut pada konstruksi dan cara kerjanya. Secara garis besar sebuah alat ukur mempunyai tiga komponen utama yaitu sensor, penggubah dan pencatat/penunjuk.

(a).  Sensor atau peraba
         Sensor merupakan bagian dari alat ukur yang menghubungkan alat ukur dengan benda atau obyek ukur. Atau dengan kata lain sensor merupakan peraba dari alat ukur. Sebagai peraba dari alat ukur, maka sensor ini akan kontak langsung dengan benda ukur. Contoh dari sensor ini antara lain : kedua ujung dari mikrometer, kedua lengan jangka serong, ujung dari jam ukur,  jarum dari alat ukur kekasaran.
(b).  Pengubah
         Bila sensor tadi merupakan bagian alat ukur yang menyentuh langsung benda ukur, maka bagian dari alat ukur tersebut yang akan memberi arti dari pengukuran yang dilakukan. Sebab, tanpa adanya bagian khusus dari alat ukur yang meneruskan apa yang diterima oleh sensor maka sipengukur pun tidak memperoleh informasi apa - apa dari benda ukur. Ada satu bagian dari alat ukur yang sangat penting yang berfungsi sebagai penerus, pengubah atau pengolah semua isyarat yang diterima oleh sensor, yaitu yang disebut dengan pengubah. Dengan adanya pengubah inilah semua isyarat dari sensor diteruskan kebagian lain yaitu penunjuk/pencatat yang terlebih dahulu diubah datanya oleh bagian penggubah. Dengan demikian pengubah ini mempunyai fungsi untuk memperjal dan memperbesar perbedaan yang kecil dari dimensi benda ukur. Pada bagian pengubah inilah yang diterapkan bermacam- macam cara kerja, mulai dari cara kinematis, optis, pneumatic, sampai pada cara gabungan.

(c).  Penunjuk atau Pencatat
         Hampir semua alat ukur mempunyai bagian yang disebut dengan penunjuk atau pencatat kecuali beberapa alat ukur batas atau standar. Dari bagian penunjuk inilah dapat dibaca atau diketahui besarnya harga hasil pengukuran. Secara umum, penunjuk/pencatat ini dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :
(1)). penunjuk yang mempunyai skala,
(2)). penunjuk berangka (sistem digital)


 b. Klasifikasi Pengukuran
Geomatris obyek ukur mempunyai bentuk yang bermacam – macam. Oleh karena itu caranya mengukur pun bisa bermacam – macam. Agar hasil pengukurannya mendapatkan hasil yang paling baik menurut standar yang berlaku maka diperlukan cara pengukuran yang tepat dan benar. Untuk itu perlu juga diketahui klasifikasi dari pengukuran. Ada beberapa pengukuran berdasarkan cara pengukuran yang bisa dilakukan untuk mengukur geometris obyek ukur yaitu :

 (1).  Pengukuran Langsung
Proses pengukuran yang hasil pengukurannya dapat dibaca langsung dari alat ukur yang digunakan disebut dengan pengukuran langsung. Misalnya mengukur diameter poros dengan jangka sorong atau mikrometer.

(2).  Pengukuran Tak Langsung
Bila dalam proses pengukuran tidak bisa digunakan satu alat ukur saja dan tidak bisa dibaca langsung hasil pengukurannya maka pengukuran yang demikian ini disebut dengan pengukuran tak langsung. Kadang – kadang untuk mengukur satu benda ukur diperlukan dua atau tiga alat ukur, biasanya ada alat ukur standar, alat ukur pembanding dan alat ukur pembantu. Misalnya mengukur ketirusan poros dengan menggunakan senter sinus (sine center) yang harus dibantu dengan jam ukur (dial indikator) dan blok ukur.


(3).  Pengukuran dengan Kaliber Batas
Kadang – kadang dalam proses pengukuran kita tidak perlu melihat berapa besar ukuran benda yang dibuat melainkan hanya untuk melihat apakan benda yang dibuat masih dalam batas – batas toleransi tertentu. Misalnya saja mengukur diameter lubang. Dengan menggunakan alat ukur jenis kaliber batas dapat ditentukan apakah benda yang dibuat masuk dalam kategori diterima (Go) atau masuk dalam kategori dibuang atau ditolak ( No Go). Dengan demikian sudah tentu alat yang digunakan untuk pengecekannya adalah kaliber batas Go dan No Go. Pengukuran seperti ini disebut pengukuran dengan kaliber batas. Keputusan yang diambil adalah : dimensi obyek ukur yang masih dalam batas toleransi dianggap baik dan dipakai, sedang dimensi yang terletak di luar batas toleransi dianggap jelek. Pengukuran cara ini tepat sekali untuk pengukuran dalam jumlah banyak dan membutuhkan waktu yang cepat.

(4). Pengukuran dengan Perbandingan Bentuk Standar
         Pengukuran di sini sifatnya hanya membandingkan bentuk benda yang dibuat dengan bentuk standar yang memang digunakan untuk alat pembanding. Misalnya kita akan mengecek sudut ulir atau roda gigi, mengecek sudut tirus dari poros konis , mengecek radius dan sebagainya. Pengukuran dilakukan dengan alat proyeksi. Jadi, di sini sifatnya tidak membaca besarnya ukuran tetapi mencocokkan bentuk saja. Misalnya sudut ulir dicek dengan mal ulir atau alat pengecek ulir lainnya.




c. Klasifikasi Alat Ukur
    Geometris obyek ukur mempunyai bentuk dan ukuran yang bervariasi. Adanya variasi bentuk dan ukuran inilah yang menyebabkan timbulnya berbagai jenis alat ukur dan jenis pengukuran. Untuk jenis pengukuran sudah dibicarakan di atas. Jenis alat ukur perlu juga dibicarakan yang dititik beratkan pada sifat alat ukur itu sendiri  maupun pada jenis benda yang diukur.
    (1). Menurut cara kerja dari alat ukur maka alat ukur dapat diklasifikasikan sebagai berikut : alat ukur mekanis, alat ukur elektris, alat ukur optis, alat ukur mekanis optis dan alat ukur pneumatis.
(2). Menurut sifat dari alat ukur maka alat ukur dapat dibedakan menjadi :
(a).  Alat ukur langsung, hasil pengukurannya dapat dapat langsung di baca pada skala ukurnya. Misalnya jangka sorong, mikrometer, dan sebagainya.
(b).  Alat ukur pembanding, alat ukur yg mempunyai skala ukur yang telah dikalibrasi. Dipakai sebagai pembanding alat ukur yang lain.Misalnya : jam ukur (dial indicator), pembanding (comparator).
(c). Alat ukur standar, alat ukur yang mempunyai harga ukuran tertentu. Biasanya digunakan bersama-sama dengan alat ukur pembanding Misalnya : blok ukur (gauge block) , batang ukur (length bar) dan master ketinggian (height master).
(d). Alat ukur batas , alat ukur yang digunakan  untuk menentukan apakah suatu dimensi obyek ukur masih terletak dalam batas-batas toleransi ukuran. Misalnya : kaliber-kaliber batas Go dan No Go.
(e).  Alat ukur bantu , alat ukur yang sifatnya hanya sebagai pembantu dalam prosesa pengukuran. Misalnya : dudukan mikrometer, penyangga/pemegang jam ukur, dan sebagainya.
       Pembahasan lengkap dari alat ukur –alat ukur tersebutb di atas akan di jumpai pada bab-bab  berikut dari buku ini.
(3). Menurut jenis dari benda yang akan diukur maka alat ukur dapat pula diklasifikasikan menjadi:
(a).  Alat ukur-alat ukur liner, baik alat ukur linier langsung maupun alat ukur  linier tak langsung.
(b).  Alat ukur sudut atau kemiringan. Ada alat ukur sudut yang langsung bisa dibaca skala sudutnya ada juga yang harus menggunakan perhitungan secara matematika.
(c).  Alat ukur kedaratan
(d).  Alat ukur mengukur profil atau bentuk
(e)  .Alat ukur ulir
(f).  Alat ukur roda gigi
(g).  Alat ukur untuk mengecek kekasran permukaan.

d.    Sumber-sumber Kesalahan
(1).  Kesalahan Pengukuran Karena Alat Ukur
        Di muka disinggung adanya bermacam-macam sifat alat ukur.Kalau sifat-sifat yang merugikan ini tidak diperhatikan  tentu akan menimbulkan banyak kesalahan dalam pengukuran. Oleh karena itu untuk mengurangi terjadinya penyimpangan pengukuran sampai seminimal mungkin maka alat ukur yang akan dipakai harus dikalibrasi terlebih dahulu. Kalibrasi ini diperlukan di samping untuk mengecek kebenaran sakla ukurannya juga untuk menghindari sifat-sifat yang merugikan dari alat ukur, seperti kestabilan nol, kepasifan, pengambangan dan sebagainya.

(2).  Kesalahan Pengukuran Karena Benda Ukur
        Tidak semua benda ukur berbentuk pejal yang terbuat dari besi, seperti rol atau bola baja, balok dan sebaginya. Kadang-kadang ukur terbuat dari bahan aluminium, misalnya kotak-kotak kecil, silinder dan sebagainya. Benda ukur seperti ini mempunyai sifat elastis, artinya bila ada beban atau tekanan dikenakan pada benda tersebut maka akan terjadi perubahan bentuk. Bila tidak hati-hati dalam mengukur benda-benda ukur yang bersifat elastis maka penyimpangan hasil pengukuran pasti akan terjadi. Oleh karena itu, tekanan kontak dari sensor alat ukur harus diperkirakan besarnya.

(3).  Kesalahan Pengukuran Karena Faktor Sipengukur
         Bagaimanapun persisnya alat ukur yang digunakan tetapi masih juga didapatkan adanya penyimpangan pengukuran, walaupun perubahan bentuk dari benda ukur sudah dihindari. Hal ini kebanyakan disebabkan oleh faktor manusia yang melakukan pengukuran. Manusia memang mempunyai sifat-sifat tersendiri dan juga mempunyai keterbatasan. Sulit diperoleh hasil yang sama dari dua orang yang melakukan pengukuran walaupun kondisi alat ukur, benda ukur dan situasi pengukurannya dianggap sama.
         Kesalahan pengukuran dari faktor manusia ini dapat dibedakan antar lain sebagai berikut : kesalahan karena kondisi manusianya, kesalahan karena metode yang digunakan, kesalahan karena pembacaan skala ukur yang digunakan.

(4).  Kesalahan Karena Pengaruh Lingkungan
       Ruang laboratorium pengukuran atau ruang-ruang lainnya yang digunakan untuk pengukuran harus bersih, terang dan teratur rapi letak peralatan ukurnya. Ruang pengukuran yang banyak debu atau kotoran lainnya sudah tentu dapat menggangu jalannya proses pengukuran. Disamping si pengukur sendiri merasa tidak nyaman juga peralatan ukur bisa tidak normal berkerjanya karena ada debu/kotoran yang menempel pada muka sensor meknis dan benda kerja yang kadang-kadang tidak terkontrol oleh si pengukur. Ruang pengukuran juga harus terang, karena ruang yang kurang terang atau remang-remang dapat mengganggu dalam membaca skala ukur yang hal ini juga bisa menimbulkan penyimpangan hasil pengukuran.
Akan tetapi, untuk penerangan ini ruang pengukuran sebaiknya tidak banyak diberi lampu penerangan. Sebab terlalu banyak lampu yang digunakan tentu sedikit banyak akan mengakibatkan suhu ruangan menjadi lebih panas. Padahal, menurut standar internasional bahwa suhu atau temperatur ruangan pengukur yang terbaik adalah 20 derajat celcius. Apabila temperatur ruangan pengukuran sudah mencapai 20 derajat celcius, lalu ditambah lampu-lampu penerangan yang terlalu banyak, maka temperatur ruangan akan berubah, Seperti kita ketahui bahwa benda padat akan berubah dimensi ukurannya bila terjadi perubahan panas, Oleh karena itu, pengaruh dari tenperatur lingkungan tempat pengukuran harus diperhatikan.    
 






3.  Rangkuman  1
a.  Pengukuran : membandingkan suatu besaran dengan besaran standar
b.  Besaran standar : acuan/ pedoman yang sudah disepakati bersama secara internasional
c. Syarat besaran standard : besaran standar dapat didefinisikan secara fisik, jelas dan tidak berubah karena waktu, dapat digunakan sebagai pembanding di seluruh dunia
d  1 meter = 1.650.763,73 x panjang gelombang Nuklids 86 Krypton
e  Bagian-bagian utama alat ukur: Frame/ body, sensor, pengubah & skala pembacaan/pencatat
f Berdasarkan jenis benda/ work pieces/ speciment yang diukur: Pengukuran linier, sudut, kedataran, profil, ulir, roda gigi, kekasaran permukaan, penyetelan posisi.
g  Berdasarkan sifat alat ukur : AU langsung, AU pembanding, AU standar, AU batas/ kaliber, AU bantu.
h.  AU langsung : AU yang mempunyai skala ukur dan hasil ukur langsung dapat dibaca. Contoh: Vernier Caliper, Micrometer, High Gauge, Steel Rule
i.  AU pembanding : untuk pembacaan besarnya selisih suatu dimensi thd ukuran standar. Contoh : komparator, mal sudut, mal radius dan penyiku
j.  AU standar : AU yang mempunyai ukuran tertentu (sudah standar) dan sebagai alat bantu untuk mengkalibrasi alat ukur yang lain. Misal :
k.  Gauge block/ Block Gage, angle block, height master
l.  AU batas/ kaliber: AU yang mampu menunjukkan apakah suatu dimensi terletak di dalam atau di luar daerah toleransi. Misal: kaliber ulir, kaliber lubang, kaliber tirus, dll
m AU bantu : bukan alat ukur tetapi alat bantu untuk pengukuran. Misalnya: bola baja, roll, dll
o.  Berdasarkan cara pengukuran : pengukuran langsung, pengukuran tidak langsung, pengukuran dengan bentuk standard dan pengukuran dengan kaliber batas.
p.  Pengukuran langsung : hasil ukur langsung dapat dibaca pada skala baca
q.  Pengukuran tidak langsung : menggunakan AU dari jenis pembanding, standard dan bantu.
r.  Pengukuran dengan kaliber batas : hanya memeriksa apakah masih masuk dalam toleransi/tidak.
s.  dengan morse konus, kisar ulir dengan mal ulir, sudut pahat dengan mal pahat, dsb.
t. Faktor penyebab kesalahan  dalam pengukuran: SWIPE ( Standard, Workpieces, Instrument, Person, Environment )
u. Standar : thermal expantion, trace ability, stability with time, position of use (standard)
v Workpieces/ benda kerja/ speciment/ benda ukur : kebersihan permukaan/ clienliness surface condition, kerusakan permukaan/ surface defect, sifat elastisitas benda/ elastic properties, penentuan titik datum atau referensi/  provision of defining datum, kebenaran geometri/ geometric truth.
w. Instrument/alat ukur : Kemudahan baca/ readability, ketepatan/ repeatability/precision, efek gerak balik/ backlash, deformasi karena kontak yang terlalu kuat, kesalahan kalibrasi/ calibration error,
x. Pencegahan kerusakan : menerapkan penggunaan sesuai dg fungsi dan rasa memiliki, menjaga kebersihan AU dan benda ukur,  hindari benturan/ jatuh, pemeriksaan setting nol     ( zero setting ), penyimpanan dengan kotak pelindung, jauhkan dari getaran dan letakkan dengan benar/ jauh dari kotoran baik debu maupun minyak pelumas.
y. Tingkatan proses pengukuran : di bengkel kerja => di meja penilai/ assessor => di laborat/ supervisor => di badan metrology tingkat propinsi
z. Tuntutan kualitas produk oleh pelanggan : kualitas bentuk, ukuran, geometris, material, penampilan, ketepatan waktu pengerjaan produk.
aa. Syarat laboratorium metrology : Suhu ruangan 20 derajat celcius kelembaban 60%, bebas dari debu, cahaya mencukupi dan tidak menimbulkan bayangan, bebas dari kebisingan, bebas dari pengaruh medan magnet, bebas dari getaran, disediakan kaos tangan dan cairan pembersih.

4.  Tugas 1
1.     Amatilah jenis – jenis alat ukur yang ada di bengkel/ laboratorium anda!
2.     Ada berapa jumlah Hight gauge  ? Sebutkan masing-masing ukurannya!
3.     Berapa tingkat ketelitian Hight gauge  tersebut (dengan melihat ukuran kaliper terkecil) ?
4.     Digunakan untuk apa Vernier Caliper tersebut? Bila kurang jelas bisa ditanyakan kepada guru anda

5.       Tes Formatif 1
1.         Jelaskan definisi pengukuran menurut pengertian anda !
2.         Jelaskan apa yang dimaksud dengan besaran standar !
3.         Sebutkan 3 syarat besaran standar !
4.         Apakah artinya 1 meter ?
5.         Sebutkan dan jelaskan 3 bagian utama alat ukur !
6.         Sebutkan dan jelaskan 3 klasifikasi alat ukur berdasarkan sifat alat ukur !
7.         Sebutkan dan jelaskan 3 klasifikasi pengukuran berdasarkan cara pengukurannya !
8.         Sebutkan 5 klasifikasi alat ukur berdasarkan jenis benda  !
9.         Sebutkan 3 faktor penyebab  kesalahan pengukuran !
10.      Sebutkan 3 syarat laboratorium metrology !

B. PEMBELAJARAN 2
MISTAR GESER KETINGGIAN ( HEIGHT GAUGE )
1.      Tujuan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Belajar ini bertujuan agar Peserta Diklat dapat menggunakan Height Gauge untuk pengukuran, dengan cara yang tepat dan sikap yang benar. Peserta Diklat diharapkan terampil dalam membaca hasil pengukuran dengan Height Gauge.

2.      Uraian Materi
a.         Fungsi mistar geser ketinggian/ Height gauge
Mistar geser ketinggian/ Height Gauge berfungsi untuk :
1). Mengukur tinggi dari obyek ukur/ speciment secara langsung
2). Mengukur perbedaan ketinggian dari dua permukaan atau lebih pada benda kerja yang bertingkat. ( Tinggi relatif suatu bidang dengan bidang yang lain )
3). Membuat garis gores yang sejajar dengan bidang referensi atau permukaan meja rata/ surface table. Hal ini biasanya digunakan ketika me-lay out benda kerja sebelum dikerjakan dengan perkakas tangan.
4). Dapat dilengkapi dengan bevel protactor untuk mengukur sudut/ kemiringan bidang.
5). Dapat dilengkapi dengan Dial Test Indicator untuk mengukur tinggi absolute dan tinggi relative dengan ketelitian yang sangat tinggi.

b.    Macam-macam mistar geser ketinggian/ Height gauge
Dilihat dari pembacaan skala ukuran, maka Height Gauge dibagi menjadi 2 yaitu:
1). Mistar geser ketinggian/ Height gauge dengan pembacaan skala ukuran dengan skala nonius/ analog.
2). Mistar geser ketinggian/ Height gauge dengan pembacaan skala ukuran dengan sistem digital.













































c.    Bagian-bagian mistar geser ketinggian/ Height gauge
Bagian – bagian Height Gauge yang paling pokok dapat dilihat dalam gambar berikut :















d.    Pembacaan ukuran dan penggunaan mistar geser ketinggian/ Height gauge
Cara mencari tingkat ketelitian dan cara melakukan pembacaan ukuran dari Height Gauge sama persis dengan pembacaan pada Vernier Caliper. Bedanya hanyalah pada posisinya. kalau Vernier Caliper untuk posisi pembacaannya cenderung horizontal ( geser ke samping ), sedangkan untuk Height Gauge posisinya vertikal ( naik - turun ).
Prosedur penggunaan Height Gauge juga sama persis dengan penggunaan Vernier Caliper. Yaitu dimulai dari membersihkan sensor/ probe/ rahang ukur, kemudian melakukan zero setting, membersihkan benda kerja dan melakukan pengukuran.






















3.    Rangkuman
a.  Height Gauge merupakan alat ukur presisi yang presisi dengan ketelitian mencapai 0,01 mm. Prinsip kerjanya sama dengan Vernier Kaliper, namun jenis alat ukur ini digunakan untuk mengukur ketinggian permukaan benda kerja sekaligus menggores ukuran tersebut untuk proses pemesinan.
b.  Karena height gauge dibutuhkan untuk akurasi pengukuran yang tinggi maka diperlukan penggunaan, penanganan dan perawatan yang baik.  Untuk memelihara keakurasian height gauge, secara berkala diperlukan penyetelan dan kalibrasi untuk menentukan kelayakan penggunaannya.
4.    Tugas 2
a.  Amatilah height gauge yang ada di bengkel/laboratorium anda!
b.  Cermati masing-masing bagian height gages tersebut dan cobalah untuk mengerti fungsi-fungsinya!
c.   Berapa tingkat ketelitian height gauge tersebut?
d.  Digunakan untuk apa height gauges tersebut? Bila kurang jelas bisa ditanyakan kepada guru anda.

5.    Tes Formatif 2
6.  Sebutkan jenis pengukuran apa saja yang dapat dilakukan menggunakan height gauge!
7.  Sebutkan bagian-bagian dari height gauge berikut ini!














6.Lembar Kerja
Petunjuk
a.     Siapkan alat ukur heigh geoge
b.     Siapkan benda kerja seperti gambar
c.     Letakkan high geoge dan benda kerja diatas meja perata
d.     Ukurlah benda kerja pada bwgian yang ditunjuk oleh gambar
e.     Tulislah hasil pengukuran pada Kolom dibawah


NO
KODE
UKURAN

NO
KODE
UKURAN







 1
A





2
B





3
C





4
D





5
E





6
F





7
G





C.  PEMBELAJARAN 3
Pemeliharaan dan perawatan Height Gauge  :
1.     Tujuan
Setelah mengikuti pembelajaran ini siswa dapat :
a.     Melakukan Perawatan alat ukur Height Gaoge
b.     Melakukan kalibrasi alat ukur Height Gaoge
2.     Uraian materi
MERAWAT HIGHT GAUGE

Tingkat ketelitian Hight gauge  harus dijaga agar  saat digunakan
Untuk kontrol /pemeriksaan demensi benda kerja hasil kerja dengan penggunaan perkakas tangan, hasil kerja  dengan mesin bubut, hasil kerja dengan mesin frais dan  hasil  kerja dengan mesin gerinda sesuai dengan tuntutan kualitas ukuran mengacu batas penyimpangan yang diijnkan.
   Semua alat ukur Hight gauge  baik yang masih baru dan sudah lama harus selalu dirawat dengan cara cara yang benar baik dengan perawatan sederhana maun dengan perawatan khusus, dengan tujuan agar terjaga karakteristik ketelitian, umur alat ukur lebih lama dan menjaga Investasi beaya pengadaan.
   Setiap pemakai  Hight gauge  harus memiliki sikap tanggung jawab rasa memiliki dengani ciri-ciri mengecek kondisi alat ukur saat dipinjam, menidentifikasi bagian bagian penting alat ukur yang ada penyimpangan, melaporkan kondisi kepada guru pembimbing, mengelola pemggunaan berdasarkan buku panduan penggunaan.
Diperlukan Alat bahan yang digunakan untuk perawatan Hight gauge  Kain pembersih/ kain katun
§   Cairan pembersih ( spiritus, alcohol ,bensin pencuci, solar)
§   Vaselin putih/ pasta vaselin putih, oli SAE 10
§   Kuas halus




                   
           a.   Prosedur Perawatan dan penyimpanan Hight gauge  :
1). Bersihkan sensor  dan bagian penting  alat ukur dengan    alat  pembersih yang disediakan sampai   gilap,bersih.
2). Suhu benda ukur/ speciment harus sudah setara dengan suhu ruang pengukuran. Dilarang keras untuk melakukan pengukuran pada benda ukur yang baru saja diproses dengan mesin perkakas ataupun yang masih panas akibat pengelasan maupun proses heat threatment.
3). Gunakan penekanan secukupnya sewaktu pengukuran. Hal ini untuk menghindari timbulnya momen pada movable jaw sehingga bila penekanan terlalu dipaksakan akan mempercepat keausan rahang.
4). Jangan menggunakan Hight gauge  untuk mainan, menjepit benda ataupun untuk memukul-mukul benda lain serta hindarkanlah dari benturan.
5). Sebelum dan sesudah digunakan untuk proses pengukuran, bersihkan seluruh bagian Hight gauge  dari debu dan kotoran. Untuk lebih sempurnanya, bagian fixed jaw dan movable jaw harus dilap dengan kain yang sudah ditetesi alcohol, diolesi pasta vaselin putih
6). Sebelum dimasukkan ke dalam kotaknya atau ke lemari khusus, dianjurkan untuk mengolesi vaselin pada fixed jaw dan movable jaw agar lebih awet dan tahan aus. Hal ini menjadi sebuah keharusan jika Hight gauge  tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama.
7). Jangan menyimpan Hight gauge  dalam posisi bertumpukan, karena selain kelihatan tidak rapi, juga akan berpengaruh terhadap keawetan Hight gauge  terutama jika ada salah satu Hight gauge  yang sudah mengalami korosi.

b.     Proses Kalibrasi Height Gauge
1). Persiapkan alat dan perlengkapan untuk proses kalibrasi sebagai berikut : Height Gauge, Surface table, Gauge Blocks, Glooves, Kain lap, Cairan Alkohol.






















2) .Bersihkan surface table (meja rata) dan probe atau rahang ukur dengan kain lap yang sudah ditetesi alkohol. Pastikan bahwa probe dalam posisi terikat kuat oleh ulir pengikat rahang ukur.
3) .Lakukanlah setting nol/ zero setting. Caranya adalah dengan menyentuhkan probe atau rahang ukur pada surface table yang sudah dibersihkan dengan cairan alkohol. Apabila Height Gauge menunjukkan angka nol tepat, maka zero setting berhasil dengan baik. Apabila Height Gauge belum menunjukkan angka nol, maka kencangkan baut pengunci kasar lalu aturlah posisi nol dengan memutar ulir penyetelan halus. Setelah posisi nol tercapai cobalah lakukan Zerro setting berulangkali sampai kita yakin bahwa zero setting yang kita lakukan sudah mantap.
4) .Lakukan pengukuran terhadap blok ukur sebanyak n buah. Misalnya 15 blok ukur secara bertingkat dari 1 mm sampai 150 mm. Pengukuran dimulai dari blok ukur yang paling tipis/ kecil hingga blok ukur yang paling tebal.
5) .Catatlah nilai kesalahan ukur yang terjadi. Kesalahan ukur adalah selisih besarnya harga yang ditunjukkan oleh alat ukur dengan ukuran standar blok ukur. Nilai kesalahan ( deviasi nilai pengukuran ) ini bisa positif ( + ) dan bisa negatif ( - ).
6) .Setelah pengukuran blok ukur selesai, pindahkan nilai kesalahan ukur ke dalam bentuk grafik seperti tersebut di bawah.
7) .Setelah proses pengukuran selesai, bersihkan blok ukur dengan kain yang sudah ditetesi alkohol  kemudian kembalikan ke tempatnya msing-masing dengan terlebih dahulu diolesi vaselin.
8) .Bersihkan Height Gauge  pada seluruh sisinya, terutama bagian probe atau rahang ukur. Olesi dengan sedikit vaselin kemudian kembalikan ke kotaknya dan simpan di tempat yang telah disediakan.







Data pengukuran dalam proses  Kalibrasi Height Gauge  
NO
BLOK UKUR ( S )
Pengamatan 1
Pengamatan 2
P
N
P
N
1
0/ Zerro Setting




2
10




3
20




4
30




5
40




6
50




7
60




8
70




9
80




10
90




11
100




12
110




13
120




14
130




15
140




16
150




Keterangan : N = P - S
N
Nilai kesalahan ukur  ( mm )
P
Pengamatan ukuran yang ditunjukkan VC  ( mm )
S
Ukuran standar yang tercantum pada blok ukur   ( mm )

Gambar 30. Lembar pengamatan ukuran dalam kalibrasi Height Gauge 





3.    Rangkuman
a.  Suhu benda ukur/ speciment harus sudah setara dengan suhu ruang pengukuran. Dilarang keras untuk melakukan pengukuran pada benda ukur yang baru saja diproses dengan mesin perkakas ataupun yang masih panas akibat pengelasan maupun proses heat threatment.
b.  Sebelum digunakan, bersihkanlah terlebih dahulu probe/ rahang ukur, work pieces/ benda kerja dan surface table/ meja rata dengan kain lap yang sudah ditetesi alkohol.
c.   Pastikan bahwa sewaktu digunakan probe telah terikat kuat oleh baud pengikat.
d.  Gunakan penekanan secukupnya sewaktu pengukuran. Hal ini untuk menghindari timbulnya momen pada rahang ukur sehingga bila penekanan terlalu dipaksakan  dapat mempercepat keausan pada probe.
e.  Jangan menggunakan probe untuk menggores bahan-bahan yang lebih keras dari probe karena dapat menyebabkan kerusakan dan keausan.
f.    Jangan mengangkat Height Gauge pada bagian skala utamanya. pengangkatan yang benar adalah pada dudukannya, sedangkan pada batang utama/ main beam hanyalh sebagai pengimbang/ penahan
g.  Sebelum dimasukkan ke dalam kotaknya atau ke lemari khusus, dianjurkan untuk mengolesi vaselin pada proberahang ukur agar lebih awet dan tahan aus. Hal ini menjadi sebuah keharusan jika Height Gauge  tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama.
h.  Jangan menyimpan jangka sorong/ Height Gauge dalam posisi bertumpukan dengan alat-alat ukur yang lain, karena selain kelihatan tidak rapi, juga akan berpengaruh terhadap keawetan Height Gauge  terutama jika ada salah satu alat ukur yang sudah mengalami korosi.
4.        Tugas 3
Lakukan kalibrasi dari macam macam Height gaoge di bawah ini :
a.      Skala analog
b.      Skala digital
Data pengukuran dalam proses  Kalibrasi Height Gauge  
NO
BLOK UKUR ( S )
Height gaoge analog
Height gaoge digital
P
N
P
N
1
0/ Zerro Setting




2
10




3
20




4
30




5
40




6
50




7
60




8
70




9
80




10
90




11
100




12
110




13
120




14
130




15
140




16
150




Keterangan : N = P - S
N
Nilai kesalahan ukur  ( mm )
P
Pengamatan ukuran yang ditunjukkan VC  ( mm )
S
Ukuran standar yang tercantum pada blok ukur   ( mm )



5.        Tes 3
1.        Hal apa saja yang harus diperhatikan pada waktu menggunakan height gaoge untuk mengukur benda kerja?
2.        Hal apa saja yang harus diperhatikan untuk merawat Height Gaoge?
3.        Mengapa Height Harus dirawat?

6.        Lembar Kerja
1.         Siapkan Height Gauge
2.         Siapkan alat-alat untuk perawatan hight gauge
3.         Lakukan perawatan berkala pada hight gauge tersebut
4.         Siapkan meja perata
5.         Siapkan blok ukur
6.         Lakukan kalibrasi high geoge terhadap blok ukur
7.         Buatlah catatan hasil kalibrasi tersebut

III. EVALUASI
A.   TES KOGNITIF
1.     Tulis minimal 4 (empat) macam alat ukur mekanik presisi !
2.     Tulis fungsi  tiga   macam alat ukur mekanik presisi !
3.      Jelaskan   bagian utama alat ukur presisi  Hight gauge !
4.     Sebutkan kegunaan Hight gauge








B.   TES PSIKOMOTORIK
Psikomotor Skill
Kompeten
Belum
1.    Mengukur linier dengan Hight gauge  ketelitian 0.05 mm dengan standard Bllock  gauge


2.    Mengukur linier dengan Hight gauge  ketelitian 0.02 mm dengan standard Bllock  gauge


3.    Melaksanakan kalibrasi Hight gauge  ketelitian  0.05 mm dengan standard Bllock  gauge


4.    Melaksanakan kalibrasi Hight gauge  ketelitian  0.02 mm dengan standard Bllock  gauge




C.   PENILAIAN SIKAP
Attitude Skill
Kompeten
Belum
1.    Alat-alat ukur mekanik presisi diidentifikasi


2.    Hight gauge dan blok ukur  dibersihkan bagian pentingnya/ sensornya


3.    Pembacaan alat Hight gauge dan blok ukur standar  dilakukan dengan benar


4.    Alat ukur Hight gauge dan blok ukur  digunakan disetting dengan  benar , digunakan sesuai prosedur


5.    Alat ukur Hight gauge dikalibrasi  dengan benar
Menggunakan blok ukur standar


6.    Alat ukur Hight gauge dan blok ukur dibersihkan, diolesi pasta vaselin dan disimpan dengan benar.






KUNCI JAWABAN
A. Kunci jawaban formatif 1
1.     Pengukuran : membandingkan suatu besaran dengan besaran standar
2.     Besaran standar : acuan/ pedoman yang sudah disepakati bersama secara internasional
3.     Syarat besaran standard : besaran standar dapat didefinisikan secara fisik, jelas dan tidak berubah karena waktu, dapat digunakan sebagai pembanding di seluruh dunia
4.     Satu meter didefinisikan sebagai satuan panjang yang panjangnya adalah = 1.650.763,73 x panjang gelombang radiasi atom  Krypton 86 dalam ruang hampa.
5.     Tiga bagian utama alat ukur yaitu :                          
-      sensor/peraba : menghubungkan alat ukur dengan benda atau obyek ukur.
-      Penggubah : berfungsi sebagai penerus, pengubah atau pengolah semua isyarat yang diterima oleh sensor dan diteruskan kebagian lain yaitu penunjuk/pencatat
-      pencatat/penunjuk : sebagai tempat pembacaan atau diketahuinya besarnya harga hasil pengukuran.
6.     Klasifikasi alat ukur berdasarkan sifat alat ukur :
-      Alat ukur langsung : hasil pengukurannya dapat dapat langsung di baca pada skala ukurnya. Misalnya jangka sorong, mikrometer, dan sebagainya.
-      Alat ukur pembanding : alat ukur yg mempunyai skala ukur yang telah dikalibrasi. Dipakai sebagai pembanding alat ukur yang lain.
     Misalnya : jamj ukur (dial indicator), pembanding (comparator).
-      Alat ukur bantu , alat ukur yang sifatnya hanya sebagai pembantu dalam prosesa pengukuran. Misalnya : dudukan mikrometer, penyangga/pemegang jam ukur, dan sebagainya
7.     Klasifikasi pengukuran berdasarkan cara pengukurannya :
-     Pengukuran Langsung : hasil ukur langsung dapat dibaca pada skala baca
-     Pengukuran tidak langsung : menggunakan AU dari jenis pembanding, standard dan bantu.
-     Pengukuran dengan kaliber batas : hanya memeriksa apakah masih masuk dalam toleransi/tidak
8.     Klasifikasi alat ukur berdasarkan jenis benda :
-     Alat ukur liner
-     Alat ukur sudut atau kemiringan
-     Alat ukur kedaratan
-     Alat ukur mengukur profil atau bentuk
-     Alat ukur ulir
-     Alat ukur roda gigi
9.     Faktor penyebab  kesalahan pengukuran :
      -   Kesalahan Pengukuran Karena Alat Ukur
      -   Kesalahan Pengukuran Karena Benda Ukur
      -   Kesalahan Pengukuran Karena Faktor Sipengukur
      -   Kesalahan Karena Pengaruh Lingkungan
10. Syarat laboratorium metrology : Suhu ruangan 20 derajat celcius kelembaban 60%, bebas dari debu, cahaya mencukupi dan tidak menimbulkan bayangan, bebas dari kebisingan, bebas dari pengaruh medan magnet, bebas dari getaran, disediakan kaos tangan dan cairan pembersih.
B. Kunci Jawaban TES FORMATIF 2
1.    Pengukuran ketinggian, mengukur perbedaan ketinggian dari bidang bertingkat
2.    a. Batang utama/ Main beam                         e. Skala nonius
      b. Skala utama                                                  f. Baut pengunci final
      c. Ulir penyetelan halus                                  g. Rahang ukur/ Probe
      d. Baut pengunci kasar                                   h. Dudukan
C..Kunci jawaban tes 3
1.      Hal yang harus diperhatikan pada waktu menggunakan height gaoge untuk mengukur benda kerja
b.  Suhu benda ukur/ speciment harus sudah setara dengan suhu ruang pengukuran. Dilarang keras untuk melakukan pengukuran pada benda ukur yang baru saja diproses dengan mesin perkakas ataupun yang masih panas akibat pengelasan maupun proses heat threatment.
c.   Sebelum digunakan, bersihkanlah terlebih dahulu probe/ rahang ukur, work pieces/ benda kerja dan surface table/ meja rata dengan kain lap yang sudah ditetesi alkohol.
d.  Pastikan bahwa sewaktu digunakan probe telah terikat kuat oleh baud pengikat.
e.  Gunakan penekanan secukupnya sewaktu pengukuran. Hal ini untuk menghindari timbulnya momen pada rahang ukur sehingga bila penekanan terlalu dipaksakan  dapat mempercepat keausan pada probe.
f.    Jangan menggunakan probe untuk menggores bahan-bahan yang lebih keras dari probe karena dapat menyebabkan kerusakan dan keausan.
2..Hal yang harus diperhatikan untuk merawat Height Gaoge
a.              Jangan mengangkat Height Gauge pada bagian skala utamanya. pengangkatan yang benar adalah pada dudukannya, sedangkan pada batang utama/ main beam hanyalh sebagai pengimbang/ penahan
b.  Sebelum dimasukkan ke dalam kotaknya atau ke lemari khusus, dianjurkan untuk mengolesi vaselin pada proberahang ukur agar lebih awet dan tahan aus. Hal ini menjadi sebuah keharusan jika Height Gauge  tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama.
c.   Jangan menyimpan jangka sorong/ Height Gauge dalam posisi bertumpukan dengan alat-alat ukur yang lain, karena selain kelihatan tidak rapi, juga akan berpengaruh terhadap keawetan Height Gauge  terutama jika ada salah satu alat ukur yang sudah mengalami korosi.
3.      Height Gaoge harus dirawat untuk menjamin keawetan alat ukur dan untuk menjami keakurasian dalam pengukuran.

D.             KUNCI JAWABAN TES KOGNITIF
1. Vernier Caliper, outside mikrometer, Heigt gauge, Dial indikator
2. a. Outside mikrometer untuk  pengukuran demensi linier luar
    b.  Height gauge untuk pengukuran linier ketinggian
    c.  Dial Indikator Untuk pengukuran linier kerataan permukaan,
 dan kesilindrisan
3.  a. Batang utama/ Main beam                            e. Skala nonius
   b. Skala utama                                                     f. Baut pengunci final
   c. Ulir penyetelan halus                                     g. Rahang ukur/ Probe
   d. Baut pengunci kasar                                      h. Dudukan
4.    Pengukuran ketinggian, mengukur perbedaan ketinggian dari bidang bertingkat







LEMBAR PENILAIAN PRAKTIK PENGUKURAN LINIER

Nama Job           :           Evaluasi Praktik pengukuran
Nama Siswa       :           …………………………………..
Nomor/Klas        :          …………./   ……………………
Alat Ukur             :           Hight gauge Ketelitian 0.02 mm
Waktu/                 :          ……… sampai ………………..
Bobot
Aspek penilaian
Rentang Skore
Skore
diperoleh
Jumlah
20 %
Proses

1. Pemilihan alat
1-5

2. Prosedur kerja
1-5

3. Keselamatan kerja
1-5

4. Perawatan alat
1-5


70 %
Hasil pengukuran



1. Panjang A
4

2. Panjang B
4

3. Panjang C
5

4. Lebar D
4

5. Lebar E
4

6. Lebar F
4

7. Kedalaman G
4

8. Celah H
4

9. Celah I
4

10. Jarak senter J
8

11. Lebar K
4

12. Jarak Senter L
8

13. Jari jari M
4

14. Jari jari N
4

15. Celah O
5


10 %
Waktu



1. Sesuai alokasi
8

2. Lebih cepat
10

3. ebih lambat                  
6


100%
Total Skore

                                                                                          …....,  ,,,,,,,,  , ……...
Guru                                                                                 Praktikan


…………………………..                                    ……………………………...
LEMBAR PENILAIAN PRAKTIK KALIBRASI

Nama JobM          :           Evaluasi Praktik pengukuran
Nama Siswa         :           …………………………………..
Nomor/Klas          :          …………./   ……………………
Alat Ukur               :           Hight gauge Ketelitian  …. mm
Waktu/                   :          ……… sampai ………………..
Bobot
Aspek penilaian
Rentang Skore
Skore
diperoleh
Jumlah
20 %
Proses

1. Pemilihan alat
1-5

2. Prosedur kerja
1-5

3. Keselamatan kerja
1-5

4. Perawatan alat
1-5


70 %
Hasil  kalibrasi



1. Setting nol
4

2. Panjang 10 mm
4

3. Panjang 20 mm
4

4. Panjang 30 mm
5

5. Panjang 40 mm
5

6. Panjang 50 mm
4

7. Panjang 60 mm
5

8. Panjang 70 mm
5

9. Panjang 80 mm
5

10. Panjang 90 mm
5

11. Panjang 100 mm
5

12. Panjang 110 mm
5

13..Panjang 120 mm
5

14. Panjang 130 mm
5

15. Setting nol
4


10 %
Waktu



1. Sesuai alokasi
8

2. Lebih cepat
10

3. ebih lambat                  
6


100%
Total Skore

                                                                                          …....,  ,,,,,,,,  , ……...
Guru                                                                                 Praktikan


…………………………..                                    ……………………………...
DAFTAR PUSTAKA


Crouse, William H, dan Anglin, Donald L (1986). Automotive Engines. New   York : Mc Graw Hill.

Krar, Stephen F., 1977, Technology of Machine Tools, McGraw-Hill, USA

Lasco, Orville D., Nelson, Clyde A., Porter, Harold W., 1977,  Machine Shop operations and setup, American Technical Publishers, USA

Sirod Hantoro dan Thomas Sukardi, 1990, Teknologi Pemeliharaan Mesin Perkakas, Liberty Yogyakarta

Sudji Munadi. (1988). Dasar-Dasar Metrologi Industri. Jakarta : Depdikbud : Dirjen Dikti, Proyek Pengembangan LPTK.

Toboldt, William K, dan Johnson, Larry. (1977). Automotive Encyclopedia. South Holland : The Goodheart Willcox.

Mitotoyo.co.LTD Manual Book Mitutoyo. Japan

Mitotoyo.co.LTD , Katalog  Alat – Alat Ukur Presisi . Jakarta





















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar